Mengapa Ahmad Sahroni?

Image 3
Ahmad Sahroni, anggota DPR RI yang jadi pemicu kemarahan rakyat karena ucapannya yang menyinggung.

Oleh: Risman Rachman, Wartawan Senior dari Aceh

 

DR. H. Ahmad Sahroni, S.E., M.I.Kom. A sebenarnya memiliki seluruh kisah hidup rakyat yang kini dia wakili. Dan, itu 24 tahun lamanya. Kita hitung saja sejak dia lahir tahun 1977 hingga dia jadi karyawan tetap, tahun 2001.

Ia pernah hidup dalam kesulitan, menjadi tukang semir sepatu, ojek payung, dan jualan es campur. Pernah juga jadi buruh kasar pelabuhan, sopir “tembak”, bahkan jadi tukang cuci piring di kapal pesiar, pelayan restoran dan sopir pribadi. Bahkan, sebagai buruh dia juga pernah dilempar asbak oleh bosnya.

Tapi entah kenapa, ketika rakyat bersuara, ia justru menyebut mereka sebagai “yang paling tolol sedunia”—hanya karena meminta “istana keduanya” yaitu DPR bubar.

Sungguh ironis. Rakyat yang dulu menjadi cermin hidupnya, kini dianggap pengganggu. Padahal, dari merekalah jalan itu terbuka: dari suara yang memilihnya, dari mandat yang mengangkatnya, hingga dari sistem yang membuat laporan kekayaannya bisa melonjak drastis.

Saat pertama kali menjabat sebagai anggota DPR RI pada 2014, kekayaannya tercatat hanya Rp2,86 miliar. Tapi tiga tahun kemudian, melonjak menjadi Rp207,8 miliar. Kini, saat memasuki periode ketiga, kekayaannya tercatat Rp328,9 miliar.

Lonjakan ini bukan sekadar angka. Ia adalah narasi lain yang layak ditelisik: apakah ini hasil kerja keras, jaringan bisnis, atau ada hal lain yang belum terungkap?

Tentu, kita tak bisa menafikan bahwa ia pernah sukses sebelum jadi wakil rakyat. Menurut catatan tentang profilnya yang tersebar di berbagai media, pada 2001 iya sukses menjadi debt colektor (penagih utang) dan lalu diangkat jadi karyawan tetap dan menjadi direktur pada 2003. Dan pada 2005 memimpin PT Eka Samudra Lima.

Tapi tetap ada nuansa “bin salabin” jika dipakai logika mengubah takdir rakyat kebanyakan kecuali ada “tangan” tak biasa untuk mencapai hidup sangat baik dengan harta hingga Rp2,86 miliar. Tapi, kita berpikir baik saja, jika Dia menghendaki, tak ada yang tidak mungkin.

Tapi, julukan “Crazy Rich Tanjung Priok” mulai dilekatkan kepadanya sekitar awal 2020, ketika gaya hidup mewahnya mulai terekspos luas oleh media dan publik. Titik sorotan utamanya adalah saat ia memamerkan koleksi mobil mewah seperti Ferrari, Tesla, dan Mustang, serta rumah empat lantai dengan lift pribadi di gang sempit Tanjung Priok A. Ini berarti hartanya sudah diangka Rp207,8 miliar (laporan 2017). Berarti sudah sebagai wakil rakyat.

Memang, Ahmad Sahroni pada 2013 ia masuk partai politik, dan pada 2014 langsung menjadi anggota DPR RI. Kini, ia telah dua periode duduk di kursi terhormat. Tapi yang lebih mengundang tanya adalah sikapnya terhadap rakyat yang dulu menjadi bagian dari kisah hidupnya.

Mengapa bisa begitu “kasar” kepada rakyat yang menyuarakan kekecewaannya? Apa mungkin seperti Noel, juga belum mengikuti pengkaderan? Bukankah NasDem ada sekolah pengkaderan?

Yang jelas, ia kini tak lagi menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR. Alasan resmi: penyegaran. Tapi bagi kami, rakyat, setidaknya ada sedikit kesegaran di tengah hati yang masih marah.

Berita Terkait

Berita Lainnya