Catatan atas Pidato Anies Baswedan: Menunggu Patriotisme Relawan

Image 3

KEMARIN pada pidato di ultah PKS dan tepat pada hari kebangkitan nasional, Anies Baswedan sudah mengetengahkan proposisi apakah kita akan terus menuju negara gagal atau kita bangkit.

Menurut Anies ancaman negara gagal itu riil di Indonesia. Sebab, mengutip buku "Why Nations Fail?" karya Acemoglu dan James Robinson, 2012, menurutnya negara gagal terjadi ketika institusi negara digunakan untuk menekan rakyatnya dan mengambil kekayaan alamnya untuk segelintir elit berkuasa.

Negara gagal sendiri merupakan situasi hilangnya kemampuan dan kapasitas negara mengurus rakyatnya. Indikasinya adalah utang yang sangat besar, rakyat miskin, pembelahan sosial yang dalam, adanya ketimpangan sosial tinggi, dan kekerasan politik terjadi cukup sering. Buku ini melakukan pendekatan institusional pada kajian negara gagal.

Hari ini, 21 Mei,  dalam pertemuan relawannya dan sekaligus refleksi 25 tahun Reformasi, Anies memperdalam isu negara gagal tersebut dengan mengetengahkan bahwa institusi mafia telah masuk menggantikan peranan negara kita, dan itu, meskipun perlahan, semakin meningkat saat ini.

Merujuk perumpamaan katak dalam air (Boiling Frog, lihat Wiki misalnya), Anies memberitahu strategi mafia dan respon kita terhadap mereka. Katak akan mati jika masuk ke air yang dipanaskan perlahan, namun melompat jika airnya langsung mendidih. Mafia itu strateginya bergerak pelan-pelan dalam menguasai negara, sehingga kita kurang sadar. Bangsa Indonesia harus segera sadar sebelum hancur digenggaman mereka.

Saat ini memang kondisi Indonesia tidak baik-baik saja. Kemiskinan kita, merujuk versi yang disarankan Bank Dunia terbaru, mencapai 40% atau lebih seratus juta penduduk. Diantaranya ada yang busung lapar dan kemiskinan parah. Pengangguran terus bertambah. Kemampuan negara menciptakan lapangan kerja per 1% pertumbuhan semakin kecil, hanya sekitar 300 ribu naker. Upah minimum terus buruk. Rerata upah di Jawa Tengah, misalnya, setara dengan 6 kg beras perhari, jika memperhatikan UMP terbaru. Ini seperti era kolonial, buruh tani mendapatkan 6 kg beras perhari. Pada saat bersamaan, pertumbuhan ekonomi dinikmati mayoritas orang-orang kaya. Ketimpangan sosial semakin menganga.

Kondisi seperti ini dijaman kolonial terjadi karena korporasi asing, VOC dll., menghisap kekayaan kita. Saat ini penghisapnya adalah oligarki dan mafia-mafia itu. Ada mafia gula, mafia beras, mafia kedelai, mafia hukum, dll. Mafia pangan, dulu sering disorot sebagai "seven samurai".

Pada saat Indonesia, misalnya, menjadi produsen terbesar minyak goreng, kita menyaksikan sendiri rakyat miskin mengular antri minyak goreng dan harga tinggi. Begitu juga BBM, yang harganya diluar kewajaran untuk dibayarkan rakyat miskin. Banyak contoh lainnya dalam kontradiksi yang ada saat ini.

Anies dan Perang Semesta

Dalam pidatonya, baik kemarin dan hari ini, Anies sudah mencanangkan perang. Perang artinya Anies memperlihatkan perlawanan pada  kelompok-kelompok yang ingin menjadikan negara sebagai alat untuk dirinya dan kelompoknya. Pertama, Anies meminta agar cita-cita Founding Fathers dikembalikan. Kita harus kembali ke spirit UUD'45. Negara harus hadir untuk kemakmuran bersama. Kedua, Anies meminta agar demokrasi ditegakkan kembali. Negara harus bisa dikontrol harus ada "check and ballance". Bukan negara ekstraktif tapi harus inklusif.

Reformasi dimaksudkan untuk mengkoreksi Orde Baru yang tidak punya demokrasi. Rakyat hanya menjadi penonton. Oleh karenanya, dalam 25 tahun refleksi reformasi ini, Anies meminta negara bisa dikontrol dan rakyat harus bisa bebas berpartisipasi. Jangan ada penangkapan pada kelompok kritis.

Ketiga, Anies ingin mafia-mafia disingkirkan. Segera. Karena mafia ini merupakan instrumen penghisap dan memiskinkan rakyat. Ini adalah lawan terberat.

Keempat, Anies ingin korupsi dihancurkan. Anies memproklamasikan bahwa korupsi adalah musuh. Negara tidak boleh intervensi dan cawe-cawe dalam soal ini. Dia, jika terpilih Presiden, memastikan tidak akan membela sahabatnya jika korupsi.

Dalam mempertegas posisinya, Anies mengkritik subsidi mobil listrik rezim Jokowi dan juga mengkritik pembangunan infrastruktur yang tidak memihak rakyat. Ini adalah pernyataan perang. Subsidi mobil listrik sarat kepentingan (vested interest) karena pembuat kebijakan adalah pemain bisnis mobil listrik itu sendiri. Makanya, jika berkuasa Anies memastikan tidak ada lagi penguasa yang pengusaha atau sebaliknya. Anies kembali pada pemikiran Plato, dalam Republik, bahwa kaum pedagang dan birokrat dua hal yang harus dipisahkan.

Soal infrastruktur, Anies membandingkan era Jokowi dan SBY. Menurutnya Jokowi hanya fokus untuk menguntungkan orang-orang kaya dibandingkan orang-orang miskin. Jokowi fokus pada jalan tol, atau berbayar, sedangkan SBY untuk seluruh jalan, baik tingkat nasional maupun daerah. Jika merujuk pada Pledoi Sukarno, Indonesia Menggugat, di pengadilan Lanraad, hampir 100 tahun lalu, intinya terjadi sebuah kritik, bahwa infrastruktur itu dibangun untuk memutar ekonomi orang kaya. Pada saat dulu Bung Karno mengatakan bahwa irigasi-irigasi yang dibangun Belanda, hanyalah untuk menyuburkan kebon2 Belanda, sisa airnya baru untuk petani pribumi. Anies mencanangkan reorientasi makna pembangunan, yakni untuk kemakmuran bersama.

Dari pidatonya itu, dua hari ini Anies menjadi sangat revolusioner. Pikiran Anies merupakan pikiran vis-a-vis, tidak ada pragmatisme dan kompromi. Namun, Anies mengatakan bahwa kekuatan dia adalah beradu (perang) gagasan, bukan beradu lari. Mungkin maksudku, gagasan ini harus menjadi gagasan yang diterima mayoritas rakyat kita. Setidaknya diterima para pendukungnya. Barulah kemudian implementasi dapat dilakukan.

Penutup

Dua hari ini, hari Kebangkitan Nasional dan Hari Reformasi, Anies telah menyampaikan gagasan revolusioner tentang perubahan ke depan. Perubahan itu merujuk pada spirit UUD45 dan Reformasi politik. Spirit UUD 45 artinya memakmurkan semua rakyat miskin, atau keadilan sosial bagi semua anak bangsa. Spirit kedua soal Reformasi, bagaimana kita mempertegas demokrasi sebagai pilihan. Karena, demokrasi mengajarkan kita untuk mempunyai negara yang bisa dikontrol rakyat, negara bisa membuat adanya partisipasi rakyat. Anies meyakini bahwa negara akan memakmurkan rakyat secara adil dan merata jika ada partisipasi rakyat atau demokrasi itu.

Dari sisi gagasan dan narasi politik ini, tentu semua pendukung Anies harus siap siaga. Anies bukan bicara tentang nasionalisme atau kebangsaan yang stagnan. Anies bicara tentang “What is to be done”. Sebuah Gerakan. Sesuatu yang dinamik. Di sisi ini yang perlu kita camkan adalah soal patriotism, bukan nasionalisme lagi. Patriotisme membutuhkan pengorbanan dan kerja keras, sedangkan nasionalisme seringkali hanya klaim eksistensialtanpa makna.

Pernyataan perang Anies pasti akan direspon lawannya sebagai ancaman. Dan ini akan memancing pertempuran yang lebih dahsyat. Dengan kesiagaan, maka semua kelompok pendukung Anies harus mampu menjaga ketangguhannya, solid, spirit tinggi dan solidaritas. Sekali lagi, pidato Anies adalah panggilan patriot kepada pendukungnya.

Penulis adalah Direktur Eksekurif Sabang Merauke Circle.

Berita Terkait

Berita Lainnya