Ini Kata Ilham Bintang Saat Peluncuran JMSI Award 2021

Image 3
Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Ilham Bintang menyampaikan sambutannya saat peluncuran JMSI Award 2021, Kamis (30/09/2021)

[BENGKULU] Bengkulu - Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) secara resmi baru saja meluncurkan "JMSI AWARD" dengan tema "Bersemi Kala Pandemi". JMSI Award adalah anugerah karya jurnalistik bagi insan pers dan media massa, yang diformat dalam bentuk lomba karya jurnalistik yang acara puncak atau malam penganugerahannya nanti dilaksanakan bertepatan dengan momentum peringatan HUT Provinsi Bengkulu ke-53.

Program ini diselenggarakan dalam rangka memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap insan pers dan media massa yang telah berkontribusi aktif mendukung laju pembangunan, perlawanan terhadap pandemi Covid-19, dan merawat bingkai kebhinekaan dalam proses berdemokrasi di tanah air.

JMSI Award merupakan program kolaborasi bersama segenap elemen bangsa yang peduli terhadap insan pers dan media massa, yang diinisiasi Pengurus Daerah (PengDa) JMSI Provinsi Bengkulu yang kemudian disetujui oleh Pengurus Pusat JMSI menjadi event nasional dan berkelanjutan. Ke depan, provinsi lain di Indonesia akan menjadi tuan rumah JMSI Award yang waktu penyelenggaraannya menyesuaikan HUT masing-masing provinsi.

Dalam konteks Kebengkuluan, Ketua JMSI Bengkulu Riki Susanto mengatakan, JMSI Award juga digelar lantaran minimnya ruang apresiasi yang diberikan kepada para wartawan yang telah berjibaku mendukung laju pembangunan.

"Berangkat dari keprihatinan bersama, secara lokal isunya bahwa kami melihat minimnya ruang apresiasi yang diberikan, baik dari lembaga pers itu sendiri maupun lembaga pemerintahan juga pihak swasta, ini latar belakang secara lokal. Secara nasional tentu ide besarnya kita ingin menciptakan ekosistem pers yang baik dan profesional," katanya saat memimpin Press Conference Launching JMSI Award, Kamis, 30 September 2021 di Mercure Hotels Bengkulu.

Lanjut Riki, JMSI Award mengusung tema Bersemi Kala Pandemi, dengan harapan membangun kembali optimisme insan pers dan media massa yang telah porak-poranda dihantam pandemi Covid-19.

"Tujuannya tentu kita ingin semua insan pers kembali optimis untuk menghadapi sekaligus melewati pandemi Covid-19 beserta dampaknya ini," tukasnya.

Ditambahkan Sekretaris JMSI Bengkulu Doni Supardi, baginya JMSI Award adalah pesta (party) bagi insan pers dan media massa setelah dalam kurun waktu kurang dari dua tahun terakhir terus berjibaku dengan kerja-kerja jurnalistiknya di tengah ancaman kesehatan akibat wabah, belum lagi ditambah terpuruknya perekonomian.

"Sederhananya kenapa kita menggagas JMSI Award, kita ingin ajang ini menjadi party-nya kita-kita para insan pers dan media massa, kalau politisi punya pesta lima tahunan lewat pesta demokrasinya, kita juga lewat ajang ini jadi pestanya kita-kita,"

"Kita sudah menentukan tema Bersemi Kala Pandemi, itu juga untuk memperkuat salah satu latar belakang kenapa kita menggelar JMSI Award, ya kondisi dalam dua tahun terakhir, karena mau tidak mau, suka tidak suka, saya banyak ngobrol dengan teman-teman wartawan ataupun pelaku pers lainnya, kita sangat terdampak Covid-19 ini, sangat-sangat terdampak, harapan kita melalui event ini kembali menumbuhkan semangat-semangat kita untuk kemudian kita berkarya," tandas Doni.

Kawah Candradimuka Wartawan

Penyelenggaraan JMSI Award oleh JMSI diapresiasi Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (DK PWI) Ilham Bintang yang sekaligus menjadi salah satu Dewan Juri JMSI Award. Baginya ajang ini adalah kawah candradimuka bagi para wartawan untuk mengevaluasi diri.

"Saya senang sekali meski JMSI baru berusia dua tahun tapi sudah terpikir untuk memasuki program pelatihan ini, ya pelatihan, jadi lomba karya jurnalistik itu harap dibaca sebagai medan latihan, kawah candradimuka buat para wartawan untuk selalu mengukur dirinya, mengukur kemampuannya, dan mengoreksi apa-apa yang yang belum tepat atau yang belum benar dalam dunia jurnalisme," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum JMSI Teguh Santosa menyebutkan, ajang JMSI Award menjadi penting karenanya harus terus digulirkan setiap tahunnya di provinsi yang berbeda. Dengan harapan tradisi pers yang taat kode etik dapat dilestarikan, pun tradisi membangun perusahaan pers yang sehat dapat terjaga.*