Marten Taha Jadi Rebutan?

Catatan Mahmud Marhaba

Image 3
Rachmat Gobel saat bersanding dengan Marten Taha dalam sebuah kegiatan. (Dok : CBD)

Sejak pekan kemarin, kita dihebohkan dengan bantuan dana 2 Triliun oleh putri almarhum Akidi Tio, Heriyanty, yang akhirnya menyeret dirinya untuk bertanggungjawab atas dugaan kebohongan yang bisa menjadikan dirinya terduga pidana penipuan. Pemberitaan media sangat gencar memberitakan dana yang sangat besar, sebesar dana pembiyaan Covid-19 di negeri ini. Kita pun terperangah dibuatnya.

Pemberitaan dana 2T itu nyaris menenggelamkan berita panas lainnya, termasuk berita politik di daerah. Padahal, ada hal yang menarik dari kunjungan reses Wakil Ketua DPR RI, Rachmat Gobel ke Gorontalo. Beberapa rumah sakit di kabupaten kota diberi bantuan ventilator. Ini tentu diresponi oleh setiap rumah sakit. Pasalnya, alat ini sangat dibutuhkan untuk mereka yang terindikasi Covid-19.

Dalam penyerahan ventilator tersebut, hampir setiap kepala daerah menerima bantuan itu secara langsung. Namun, mata publik tertuju kepada sosok Marten Taha, Walikota Gorontalo dua periode saat ini. Marten Taha menjadi trend dimata politisi Gorontalo. Tak lama pun banner di media sosial beredar gambar pasangan Rachmat Gobel – Marten Taha dengan slogan (RATA).

Sejenak kita melupakan ‘perjodohan’ politik RATA. Kita melihat siapa Marten Taha Walikota Gorontalo saat ini. Dirinya bisa dikatakan unik. Dan bisa jadi itu merupakan salah satu kriteria penilaian sebagian rakyat Kota Gorontalo untuk memilihnya. Pengalamannya di dunia politik tidak perlu ragukan lagi. Mulai dari Gorontalo masih bersama Sulawesi Utara (Sulut) kala itu, Marten Taha sudah masuk dalam bilangan anggota legislatif yang patut diperhitungkan.

Ketika Gorontalo menjadi provinsi sendiri, Marten pun pulang kampung. Bersama sejumlah anggota legislatif lainnya, Marten Taha menghiasi gedung DPRD yang menempati balai Kartini saat itu. Kecerdasan serta kerendahan hatinya menempatkannya menduduki beberapa posisi penting di legislatif. Mulai dari anggota biasa, anggota Banggar, Ketua Fraksi Golkar hingga menjadi Ketua DPRD provinsi Gorontalo. Bisa dibilang, Marten sangat paripurna dalam jabatan di DPRD.

Kecerdasan Marten terus terasah seiring pengalaman dan jabatannya di dunia politik. Matematika politiknya sangat tepat. Dirinya pun rela turun gunung, dengan niat untuk menata Kota Gorontalo yang lebih baik. Alhasil, kursi jabatan Walikota Gorontalo diraihnya. Bukan perkara gampang untuk menumbangkan petahana saat itu. Mengendalikan Kota Gorontalo yang menjadi penyangga provinsi terbilang sulit. Strategi lawan politik untuk mencungkilnya sangat kuat. Belum lagi kemesraan antara dirinya dengan Wakil Walikota, Budi Doku retak. Kondisi ini menambah suasana politik memanas. Namun, sosok Marten yang tenang, mampu mengendalikan secara perlahan situasi saat itu. Meski tak bisa dipungkiri, sesekali dirinya terlihat lepas kontrol. Ya, sebagai manusia biasa, Marten pun bisa marah. Ledakan amarahnya bisa terlihat dari wajahnya yang memerah.

Nyaris Dikudeta

Sebagai Walikota Gorontalo yang juga selaku Ketua DPD II Partai Golkar Kota Gorontalo, Marten dipandang piawai mengendalikannya. Berbagai tekanan yang dialaminya menjadikan Marten tetap tenang. Bahkan, ketika dirinya didesak untuk melakukan Pengganti Antar Waktu (PAW) Ketua DPRD Kota Gorontalo, Marten diam seribu bahasa. Tidak ada kebijakan politik yang diambilnya. Semua diserahkan pada mekanisme partai. Surat perintah PAW dari Gubernur Gorontalo dilayangkan ke Ketua DPRD Kota Gorontalo yang tembusannya pasti kepada dirinya selaku Walikota. Surat Gubernur itu bagaikan angin liar yang memiliki kekuatan untuk mendesak dirinya mundur dari jabatan Ketua DPD II Golkar. Beberapa oknum Pimpinan Kecamatan (PK) Partai Golkar Kota Gorontalo mencoba melakukan tekanan dengan melemparkan mossi tidak percaya atas dirinya. Apalagi, hubungan antara dirinya dengan Sekretaris Golkar Kota Gorontalo tidak harmonis. Isue kudeta terhadap kepemimpinan Ketua Golkar Kota Gorontalo pun merebak. Namun, ditengah jalan rencana kudeta itu mereda. Marten kembali mengusai Golkar.

Sekali lagi, pengalaman Marten di dunia politik harus diajungi jempol. Kran masa jabatan Ketua DPD I hingga 3 periode ditangkapnya. Marten berada dibaris terdepan bersama Ketua DPD II Golkar lainnya untuk memuluskan masa jabatan 3 periode itu. Sebagai kader Golkar, Marten mampu memperlihatkan loyalitasnya kepada pimpinan Golkar diatasnya. Tak butuh waktu lama. Sejumlah pernyataan sikap dukungan terhadap Ketua DPD I Golkar untuk masa jabatan 3 periode bisa dikumpulkan dari semua PK Golkar se Kota Gorontalo. Tak hanya sampai disitu. Dirinya bersama Ketua DPD II  lainnya dipercayakan untuk mengantar dukungan terhadap Rusli Habibie dalam jabatan Ketua DPD I Golkar provinsi Gorontalo ke DPP.

Kesuksesan Marten dan rekan-rekan pengurus DPD II serta DPD I saat itu menghatar Rusli Habibie untuk masa jabatan 3 periode tentu punya catatan sendiri di mata Rusli. Buktinya, Marten Taha pun diberikan porsi untuk menyusun struktur kepengurusan DPD I Partai Golkar yang saat ini berjalan. Imbasnya, Marten pun mendapat dukungan dari PK untuk periode ketiga memimpin partai Golkar Kota Gorontalo.

Politisi Cerdas

Sebagai Walikota Gorontalo, Marten Taha memiliki tanggungjawab yang besar terhadap kesejahteraan rakyatnya. Kondisi negara yang dilanda pandemi Covid berimbas hingga ke daerah yang dipimpinnya. Apalagi, Kota Gorontalo menjadi daerah tujuan dari berbagai daerah di Gorontalo. Berbagai upaya dilakukan agar keselamatan warganya tetap terjaga. Kondisi inilah membuat dirinya harus membuka tangan untuk menerima setiap bantuan dari siapapun. Baik itu dari pemerintah pusat, swasta bahkan dari lawan politik sekalipun. Ini cukup beralasan, karena daerah kabupaten/ kota yang punya rakyat, dibandingkan dengan pemerintah provinsi.

Ketika Wakil Ketua DPR RI, Rachmat Gobel, menyerahkan bantuan ventilator ke rumah sakit Aloei Saboe, Marten selaku Walikota hadir dan menerima bantuan itu. Tercatat, ini bukan kali pertama Rachmat Gobel memberikan bantuan ke Kota Gorontalo dan daerah lainnya. Baik bantaun yang menggunakan dana pribadi, maupun atas nama partai politik. Tanpa rasa canggung, dirinya menerima bantuan itu atas nama rakyat Kota Gorontalo.

“Sekalipun ada perbedaan politik antara saya dengan pak RG, tetapi demi kepentingan rakyat kota gorontalo kami bersatu," ujar Marten Taha.

Inilah pernyataan cerdas Walikota Gorontalo. Tak menolak pemberian, tapi tak menyakiti institusi yang dipimpinnya. Meski pun, bisa jadi kondisi ini menjadikan wajah politisi Gorontalo memerah. Seperti ditampar wajahnya sendiri.

Nilai Tawar Tinggi

Dari pengamatan yang ada, beberapa nama diunggulkan untuk menjadi calon Gubernur Gorontalo tahun 2024 nanti. Ada nama Elnino Husain Mohie dan Idah Saidah yang saat ini sebagai anggota legislatif di Senayan. Sementara ada nama Syarif Mbuinga, mantan bupati Pohuwato 2 periode dari partai Golkar. Beberapa kali dirinya menerima angin segar dijanjikan menjadi Gubernur Gorontalo kedepan. Semoga angin segar itu bisa menjadi kenyataan.

Menariknya, Prof. Nelson Pomalingo mulai dielu-elukan untuk menjadi Gubernur kedepan. Ini dikarenakan, masa jabatannya pun berakhir saat gelaran Pilkada serentak dilakukan tahun 2024. Sosok Nelson Pomalingo dianggap mampu menjadi pemimpin masa depan. Apalagi, hubungan dirinya dengan Gubernur saat ini sungguh mesra.

Namun, kedatangan Rachmat Gobel diviralkan oleh media lokal terkait rencana dirinya mencalonkan sebagai Gubernur 2024. Opini masyarakat terbentuk, jika Rachmat Gobel maju, maka selesai Pilgub Gorontalo. Kemudian orang mulai memasang-masangkan Rachmat dengan calon lainnya. Kunjungan Rachmat Gobel ke Rudis Walikota pekan kemarin ditafsirkan sebagai kunjungan politik. Ini tentu menguatkan posisi tawar Marten Taha jika mau dipasangkan sebagai Wakil Gubernur kedepan mendampingi Rachmat Gobel. Meski ada beberapa pendukung fanatik Marten Taha menghendaki agar dirinya maju sebagai calon Gubernur. Ini tentu butuh kajian panjang. Apalagi, konstalasi politik bisa berubah persekian menit.

Kita tunggu waktunya nanti. Apakah benar Rachmat Gobel akan maju sebagai Gubernur Gorontalo? Relakah Golkar melepas Marten Taha untuk menjadi Wakil Gubernur dari Rachmat Gobel? Apa sikap Marten jika dirinya dilamar oleh Nasdem menjadi Wakil Gubernur nanti? Semua masih tanda tanya. Kita tunggu hasil akhirnya.*  

Berita Terkait

Berita Lainnya