Mengapa Hyundai Tutup Kantor Pusat Asia Pasifik di Malaysia, dan Pindah ke Indonesia?

Image 3
Hyundai Kona Electric, menuju ke sana | Electrive.com

Pada 12 November 2015, sebuah kantor yang megah berdiri di Mutiara Damansara, sebuah kawasan elit di Petaling Jaya, Selangor, Malaysia. Itulah kantor Hyundai Training Academy (HTA) yang, waktu itu, direncanakan untuk difungsikan sebagai markas regional Hyundai Motor di kawasan Asia Pasifik.

Tak hanya itu, kantor regional Hyundai ini memberikan dukungan, termasuk pelatihan penjualan dan purna jual kepada perwakilan Hyundai di 32 negara di kawasan Asia Pasifik.

HTA Asia Pasifik ini adalah fasilitas kedua Hyundai yang dilengkapi dengan standar-standar terbaru Hyundai, setelah mereka membuka HTA pertama di Dubai. HTA di Malaysia ini juga memberikan kesan kepada para pengunjung maupun para trainee yang datang dari seluruh Asia Pasifik, bahwa Hyundai adalah brand premium kelas dunia.

Intinya, HTA adalah sebuah kantor penting.

Namun, beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 6 Januari 2021, Wapcar.my, sebuah situs otomotif terkemuka di negeri jiran, mengabarkan bahwa HTA Asia Pasifik di Malaysia akan segera ditutup, dan Hyundai pun sedang berkemas, bersiap untuk pindah ke Indonesia. Kabar ini tentu menjadi pukulan bagi ambisi Malaysia yang berkeinginan menjadi hub otomotif untuk kawasan Asia Tenggara, menggantikan Thailand.

Sebagian besar staf Malaysia yang bekerja di sana telah dirumahkan, dan beberapa yang tersisa akan meninggalkan posisinya begitu serah terima ke tim Indonesia yang baru selesai dilakukan. Serah terima akan dilakukan secara bertahap, dan diharapkan selesai akhir 2021 ini.

Mengapa Hyundai Asia Pasifik akhirnya meninggalkan Malaysia dan pindah ke Indonesia?

Masih menurut Wapcar.my, meskipun begitu banyak program dalam rangka mencapai ambisi Malaysia menjadi hub Otomotif Asia Tenggara, seperti Next generation vehicles (NxGV), Automated and Autonomous Connected Vehicle (AACV), Energy Efficient Vehicle (EEV), dan lainnya, tak banyak lagi pabrikan mobil dunia yang mengucurkan uangnya ke Malaysia.

Saat ini, Indonesia adalah negara yang diinginkan banyak pabrikan otomotif dunia, salah satunya adalah komitmen pemerintah Indonesia untuk mendorong pengembangaan kendaraan listrik, sesuatu yang ingin dikejar oleh setiap pabrikan mobil.

Hyundai telah mengkonfirmasi bahwa mereka akan menginvestasikan US4 1,55 miliar di Indonesia hingga 2030, termasuk di dalamnya adalah pabrik yang mampu memproduksi 150.000 mobil per tahun (dan dapat ditingkatkan menjadi 250.000 mobil) di Bekasi, Jawa Barat. Produksi akan dimulai akhir tahun ini.

Dengan Indonesia kini menjadi hub produksi Hyundai untuk Asia Tenggara, masuk akal bagi Hyundai untuk memindahkan kantor regional dan pusat pelatihannya ke Jakarta.

Selain Hyundai, Toyota juga akan menginvestasikan uS$2 miliar di Indonesia hingga 2023 untuk membangun kendaraan hybrid dan listrik. Menurut presiden Toyota, Akio Toyoda, Indonesia sudah memiliki peta pengembangan kendaraan listrik, dan Toyota menganggap Indonesia sebagai tujuan investasi kendaraan listrik utama saat ini.

Beberapa waktu yang lalu, juga tersiar kabar bahwa Tesla akan mengirimkan timnya ke Indonesia untuk mempelajari kemungkin investasi pabrik baterai di Indonesia.

Produsen baterai China CATL, pemasok baterai tegangan tinggi terbesar di dunia untuk kendaraan listrik, akan menginvestasikan US$ 5 miliar untuk membangun pabrik baterai di Indonesia pada tahun 2024, sementara LG Chem juga sudah menandatangani kesepakatan membangun pabrik baterai, senilai USD 9,8 miliar.

Panasonic bersama dengan Honda saat ini sedang melakukan uji coba di Indonesia untuk mengumpulkan data baterai quick swap yang dapat dilepas untuk sepeda motor listrik. Saat ini, CATL, LG Chem, dan Panasonic adalah tiga produsen baterai terbesar untuk kendaraan listrik dan kendaraan hybrid.

Indonesia diberkahi kekayaan sumber daya alam yang melimpah, termasuk nikel. Cadangan nikel Indonesia menjadi salah satu terbesar dunia. Saat ini saja, Indonesia dikenal sebagai produsen dan eksportir nikel terbesar dunia yang menguasai 27 persen kebutuhan pasar global.

Kebutuhan baterai kendaraan listrik akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah pemakaian kendaraan listri‎k dan kebijakan Uni Eropa yang menghentikan penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil pada 2025.